29 November 2014

Salah satu persyaratan dalam menyelesaikan program sarjana adalah dengan melakukan penelitian ilmiah yang dimuat dalam sebuah karya tulis ilmiah yang disebut dengan Skripsi. Berikut adalah contoh-contoh judul skripsi pendidikan matematika yang bisa dijadikan sebagai bahan referensi dalam pemilihan judul skripsi, yaitu:

1. Penerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
2. Pengaruh Keterlibatan Siswa Dalam Proses Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
3. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments (TGT) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
4. Penerapan Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
5. Pengembangan Materi Pembelajaran Tentang Relasi dan Fungsi Menggunakan Model Smith and Ragan SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
6. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
7. Analisi Hasil Belajar Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation di Kelas IX Semester I SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
8. Pengaruh Metode Penemuan Terbimbing Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
9. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
10. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
11. Pengembangan Materi Pokok Relasi dan Fungsi Menggunakan Model 4-D SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
12. Pengaruh Penggunaan Media Overhead Projector Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
13. Pengembangan Materi Pelajaran Tentang Persamaan Kuadrat Menggunakan Model Assure SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
14. Upaya Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Keterampilan Mengajar Guru SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
15. Pengaruh Pendekatan Terpadu (Integrated Approach) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
16. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stay Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
17. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
18. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
19. Pengaruh Lembaran Kerja Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
20. Penerapan Metode Pembelajaran Examples Non Examples Dalam Proses Pembelajaran Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
21. Penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
22. Penerapan Model Pembelajaran Elaborasi Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
23. Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
24. Perbedaan Hasil Belajar Matematika Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match, Inside Outside Circle, dan Bamboo Dancing SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015
25. Penerapan Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2014/2015

Demikianlah contoh-contoh judul skripsi dan semoga bermanfaat.

Posted on Sabtu, November 29, 2014 by Eman Mendrofa

2 comments

25 November 2014

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN PEER LESSONS UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP NEGERI 1 NIAS TAHUN PELAJARAN 2014/2015


Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang sangat penting dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan profesional. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri individu, terutama bagi perkembangan bangsa dan negara. Pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan, mutu pendidikan dan martabat manusia yang terdidik dan beriman, bertanggungjawab, partisipatif, kreatif dan inovatif guna menjawab tantangan perkembangan kemajuan zaman. Hal ini sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Untuk mencapai fungsi dan tujuan pendidikan tersebut, hanya dapat tercapai melalui proses pendidikan. Dalam keseluruhan proses pendidikan kegiatan pembelajaran adalah yang paling utama. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran. Perubahan kurikulum merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai fungsi dan tujuan tersebut. Adapun kurikulum yang sedang berlangsung saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran diharapkan lebih berpusat kepada siswa (student centered), artinya siswa terlibat langsung dan aktif dalam proses pembelajaran, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan mediator. Guru hendaknya merencanakan pembelajaran yang menarik, efektif dan bermakna serta bisa menyesuaikan dan menerapkan model dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi yang hendak diajarkan. Sehingga dengan hal ini, diharapkan siswa menjadi lebih aktif dalam menemukan sendiri pengetahuan dan mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

Namun kenyataan yang terjadi disetiap unit sekolah pada saat ini sungguh jauh berbeda dengan yang diharapkan. Tentu saja penyimpangan ini akan berdampak pada hasil belajar mata pelajaran matematika pada khususnya. Hal ini diperkuat dengan hasil studi pendahuluan yang dilaksanakan peneliti pada tanggal 06 Oktober 2014 di SMP Negeri 1 Nias, yaitu:
  1. Hasil pengamatan peneliti dilapangan didapatkan data yaitu
    • Kegiatan pembelajaran didominasi oleh guru dengan metode ceramah dan pemberian tugas.
    • Dalam proses pembelajaran siswa hanya mendengar dan mencatat materi yang disampaikan oleh guru sehingga siswa cenderung pasif.
    • Beberapa siswa tampak kurang semangat saat pembelajaran matematika berlangsung.
    • Kurangnya kreativitas siswa dalam belajar.
    • Media pembelajaran dan sumber belajar yang tersedia di sekolah masih kurang.
  2. Hasil wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran matematika ditemukan:
    • Siswa jarang bertanya tentang materi yang kurang jelas pada saat proses pembelajaran berlangsung.
    • Kurangnya interaksi diantara siswa terutama saat proses pembelajaran berlangsung.
    • Siswa sulit mengerjakan soal-soal yang tidak sama dengan contoh yang telah diberikan oleh guru.
    • Kurangnya keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat serta dalam merumuskan gagasan sendiri.
  3. Hasil wawancara dengan beberapa orang siswa diperoleh informasi bahwa:
    • Siswa kurang termotivasi belajar matematika karena dianggap sulit dipahami.
    • Kurangnya variasi pembelajaran yang digunakan guru sehingga siswa merasa bosan dan mengantuk saat pembelajaran berlangsung.
Dari beberapa uraian masalah di atas, jelas akan bertentangan dengan yang diharapkan terutama didalam KTSP. Tentu saja bila hal ini terus menerus dibiarkan maka hasil belajar siswa yang selama ini telah jauh dari yang diharapkan akan semakin lebih buruk lagi sehingga kompetensi yang telah ditetapkan selama ini tidak akan pernah tercapai. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti berkeinginan untuk menerapkan strategi pembelajaran Peer Lessons. Strategi pembelajaran Peer Lessons merupakan strategi pembelajaran yang baik digunakan untuk menggairahkan kemauan peserta didik untuk mengajarkan materi kepada temannya. Hal ini sesuai dengan langkah-langkah strategi pembelajaran Peer Lessons yang dikemukakan Zaini dkk (2008:62-63) yaitu:
  1. Bagi peserta didik menjadi kelompok-kelompok kecil sebanyak segmen materi yang akan disampaikan;
  2. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk mempelajari satu topik materi, diusahakan topik yang diberikan harus saling berhubungan;
  3. Minta setiap kelompok menyiapkan strategi untuk menyampaikan materi kepada teman-teman sekelas;
  4. Buat beberapa saran seperti menggunakan alat visual atau menyiapkan media pengajaran yang diperlukan;
  5. Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam maupun di luar kelas;
  6. Setiap kelompok menyampaikan materi sesuai tugas yang telah diberikan;
  7. Setelah semua kelompok melaksanakan tugas, guru memberi kesimpulan dan mengklarifikasi sekiranya ada yang perlu diluruskan dari pemahaman peserta didik.
Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti melaksanakan penelitian dengan menggunakan metode Penilitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari beberapa siklus dengan pendekatan kuantitatif. Setiap siklus terdiri dari 4 (empat) tahapan yaitu: perencanaan (planning), tindakan (action), observasi dan refleksi. Data diperoleh dengan menggunakan beberapa instrumen penelitian, antara lain: lembar observasi, lembar panduan wawancara, angket, rekaman video/foto dan tes hasil belajar. Populasi penelitian adalah kelas VIII SMP Negeri 1 Nias Tahun Pelajaran 2014/2015. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, peneliti akan melaksanakan penelitian ilmiah dengan judul: "PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN PEER LESSONS UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP NEGERI 1 NIAS TAHUN PELAJARAN 2014/2015".


.:: Smoga bermanfaat ::.


Posted on Selasa, November 25, 2014 by Eman Mendrofa

4 comments

24 November 2014


a. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan belajar tersebut. Menurut aliran behavioristik dalam Hamdani (2011:23) mengatakan bahwa: "pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan atau stimulus". Selanjutnya menurut Gagne,dkk dalam Warsita (2008:266) mengatakan bahwa: Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar peserta didik, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar peserta didik yang bersifat internal.
Lebih lanjut Warsita (2008:266) menjelaskan bahwa ada lima prinsip yang menjadi landasan pengertian pembelajaran yaitu:
  1. Pembelajaran sebagai usaha untuk memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama proses pembelajaran itu adalah adanya perubahan perilaku dalam diri peserta didik.
  2. Hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan. Prinsip ini mengandung makna bahwa perilaku sebagai hasil pembelajaran meliputi semua aspek perilaku dan bukan hanya satu atau dua aspek saja.
  3. Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ini mengandung makna bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan, di dalam aktivitas itu terjadi adanya tahapan-tahapan aktivitas yang sistematis dan terarah.
  4. Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan adanya suatu tujuan yang akan dicapai.
  5. Pembelajaran merupakan bentuk pengalaman.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu usaha yang dilakukan oleh pendidik dalam membelajarkan peserta didik sehingga terjadi perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik.


b. Ciri-Ciri Pembelajaran
Darsono dalam Hamdani (2011:47) berpendapat bahwa ciri-ciri pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan dengan sistematis.
  2. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.
  3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik perhatian dan menantang siswa.
  4. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.
  5. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siawa.
  6. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun secara psikologi.
  7. Pembelajaran menekankan keaktifan siswa.
  8. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan sengaja.
Oleh karena itu, pembelajaran pasti mempunyai tujuan yaitu membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu, tingkah laku siswa bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya. Tingkah laku ini meliputi pengetahuan, keterampilan dan nilai atau norma yang berfungsi pengendali sikap dan perilaku siswa.


c. Komponen-komponen Pembelajaran
Karena pembelajaran merupakan suatu proses, maka dalam proses pembelajaran ada beberapa komponen yang saling berinteraksi satu dengan yang lain sehingga disebut sebagai sistem. Sebagai suatu sistem, proses belajar itu saling berkaitan dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang ingin dicapainya.
Komponen-komponen proses pembelajaran adalah:
  1. Tujuan
  2. Tujuan adalah suatu harapan atau cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan pembelajaran yang tidak mempunyai tujuan, dan hal ini telah dipersiapkan oleh seorang guru sebelum kegiatan pembelajaran yang tertera dalam rencana pembelajaran yang dirumuskan melalui tujuan pembelajaran khusus.
  3. Materi Pembelajaran
  4. Materi pelajaran merupakan substansi yang akan disajikan dalam kegiatan pembelajaran. Tanpa materi pembelajaran program pembelajaran tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar harus memiliki dan menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa.
  5. Pendekatan, Model, Strategi, Metode, Teknik
  6. Komponen yang ketiga ini mempunyai fungsi yang sangat menentukan. Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen ini. Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa dapat diimplementasikan melalui strategi yang tepat, maka komponen-komponen tersebut tidak akan memiliki makna dalam proses pencapaian tujuan.
  7. Media
  8. Media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Dalam proses pembelajaran kehadiran media mempunyai arti yang sangat penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidak jelasan materi yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara.
  9. Evaluasi
  10. Evaluasi bukan saja berfungsi untuk melihat keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran, tetapi juga berfungsi sebagai umpan balik bagi guru atas kinerjanya dalam pengelolaan pembelajaran. Melalui evaluasi kita dapat melihat kekurangan dalam pemanfaatan berbagai komponen sistem pembelajaran.

d. Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran
Peran guru dalam proses pembelajaran sangat penting. Sanjaya (2008:21) mengemukakan beberapa peran guru dalam proses pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
  1. Guru sebagai sumber belajar
  2. Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pembelajaran.
  3. Guru sebagai fasilitator
  4. Guru berperan dalam memberi layanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.
  5. Guru sebagai pengelola
  6. Guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman.
  7. Guru sebagai demonstrator
  8. Peran guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan.
  9. Guru sebagai pembimbing
  10. Peran guru sebagai pembimbing adalah membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya sebagai bekal hidup mereka, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia ideal yang menjadi harapan setiap orang tua dan masyarakat.
  11. Guru sebagai motivator
  12. Guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, yaitu:
    • Memperjelas tujuan yang ingin dicapai
    • Membangkitkan minat siswa
    • Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
    • Diberilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa
    • Berikan penilaian
    • Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa
    • Ciptakan persaingan dan kerjasama
  13. Guru sebagai evaluator
  14. Guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan.

e. Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Sistem Pembelajaran
Sanjaya (2009:52) mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses sistem pembelajaran yaitu, "faktor guru, faktor siswa, sarana, alat dan media yang tersedia, serta faktor lingkungan".
  1. Faktor Guru
  2. Dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya berperan sebagai teladan bagi siswa yang diajarnya, tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran (manager or learning), Sanjaya (2009:52). Oleh karenanya, keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas atau kemampuan guru. Menurut Dunkin dalam Harefa (2010:26) ada sejumlah aspek yang dapat mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru yaitu:
    • Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang sosial mereka.
    • Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru.
    • Teacher properties, segala sesuatu yang berhubungan dengan yang dimiliki guru.
  3. Faktor Siswa
  4. Siswa adalah organisme yang unik dan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh perkembangan anak yang tidak sama. Sanjaya (2009:54) menjelaskan bahwa: Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari Aspek siswa meliputi aspek latar belakang siswa disebut pupil formative experience yaitu jenis kelamin siswa, dari keluarga yang bagaimana siswa berasal, dan lain-lain, serta faktor sifat yang dimiliki siswa (pupil propeties) yaitu kemampuan dasar, pengetahuan, dan sikap siswa.
  5. Faktor sarana dan prasarana
  6. Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran: misalnya media pembelajaran, alat-alat pelajaran, perlengkapan sekolah dan lain sebagainya. Prasarana adalah suatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil, dan lain sebagainya.
  7. Faktor Lingkungan
  8. Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran yaitu, faktor organisasi kelas dan faktor iklim sosial-psikologis. Faktor organisasi kelas, meliputi jumlah siswa dalam satu kelas. Sedangkan faktor iklim sosial-psikologis merupakan keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran.

f. Kriteria Keberhasilan Proses Pembelajaran
Mulyasa (2005:132-133) mengemukakan bahwa "keberhasilan proses pembelajaran dapat dilihat dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang". Kriteria-kriteria tersebut diuraikan, sebagai berikut:
  1. Kriteria jangka pendek
    • Sekurang-kurangnya 75% isi dan prinsip-prinsip pembelajaran dapat dipahami, diterima dan diterapkan oleh para peserta didik di kelas
    • Sekurang-kurangnya 75% peserta didik merasa mendapat kemudahan, senang dan memiliki kemauan belajar yang tinggi
    • Para peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran
    • Materi yang dikomunikasikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan mereka memandang bahwa hal tersebut akan sangat berguna bagi kehidupannya kelak
    • Pembelajaran yang dikembangkan dapat menumbuhkan minat belajar para peserta didik untuk belajar lebih lanjut (continuing)
  2. Kriteria jangka menengah
    • Adanya umpan balik terhadap para guru tentang pembelajaran yang dilakukannya bersama peserta didik
    • Para peserta didik menjadi insan yang kreatif dan mampu menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapinya
    • Para peserta didik tidak memberikan pengaruh negatif terhadap masyarakat, lingkungannya dengan cara apapun
  3. Kriteria jangka panjang
    • Adanya peningkatan mutu pendidikan, yang dapat dicapai oleh sekolah melalui kemandirian dan inisiatif kepala sekolah, guru dalam mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber yang tersedia
    • Adanya peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan dan penggunaan sumber-sumber pendidikan, melalui pembagian tanggung jawab yang jelas, transparan dan demokratis
    • Adanya peningkatan tanggungjawab sekolah kepada pemerintah, orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya berkaitan dengan mutu sekolah, baik dalam intra maupun ekstrakurikuler
    • Adanya kompetisi yang sehat antar sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orangtua, peserta didik, masyarakat dan pemerintah daerah setempat
    • Tumbuhnya kemandirian dan berkurangnya ketergantungan dikalangan warga sekolah, bersifat adiktif dan produktif, serta memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi ulet, inovatif dan berani mengambil resiko)
    • Terwujudnya proses pembelajaran yang efektif, yang lebih menekankan pada belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup bersama (learning to live together)
    • Terwujudnya iklim sekolah yang aman, nyaman dan tertib, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung
    • Adanya proses evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Evaluasi secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik, tetapi untuk memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut bagi perbaikan dan penyempurnaan proses pembelajaran di sekolah
Lebih lanjut Djamarah dan Zain (2010:107) menjelaskan bahwa keberhasilan proses belajar itu dibagi atas beberapa taraf atau tingkatan yaitu:
  1. Istimewa/maksimal: apabila keseluruhan bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa.
  2. Baik sekali/optimal: apabila sebagian besar (76% s.d 99%) bahan pelajaran yang disampaikan dapat dikuasai oleh siswa.
  3. Baik/minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60% s.d 75% saja dikuasai oleh siswa.
  4. Kurang: apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dikuasai oleh siswa.
.:: Smoga bermanfaat ::.

Posted on Senin, November 24, 2014 by Eman Mendrofa

No comments

23 November 2014


a. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi para pelajar atau mahasiswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing. Belajar merupakan istilah yang paling esensial dalam setiap usaha pendidikan, sebab tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada yang namanya pendidikan. Pengertian belajar dikemukakan oleh banyak ahli dengan pengertian yang berbeda-beda. Hal ni disebabkan karena perbedaan dalam sudut pandang, perbedaan tersebut akan menambah wawasan dan pengetahuan tentang belajar. Namun pada dasarnya pengertian tersebut lebih menitikberatkan belajar pada perubahan tingkah laku.
Slameto dalam Hamdani (2011:20) mengemukakan bahwa: "Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya". Selanjutnya menurut Gagne dalam Suprijono (2010:2) mengatakan bahwa: "Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas". Oleh karena itu, seseorang yang melakukan aktivitas belajar dan diakhir dari aktivitasnya itu telah memperoleh perubahan dalam dirinya dengan memiliki pengalaman baru, maka seseorang itu dikatakan telah belajar.
Berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia mengemukakan beberapa pengertian dari belajar yaitu: a) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, b) berlatih, c) berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Lebih lanjut Lufri (2010:1) menguraikan beberapa rumusan tentang belajar yang umum digunakan:
  1. Belajar didefenisikan sebagai modifikasi atau peneguhan perilaku melalui pengalaman (learning is defined as the medication or strengthening of behavior through experiencing). Berdasarkan pengertian ini belajar bukan suatu hasil dan bukan pula suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses atau suatu aktifitas.
  2. Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku individu yang terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
  3. Belajar adalah merupakan perpaduan kedua pengertian di atas, yaitu merupakan suatu proses atau aktifitas individu dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya sehingga terjadi pengalaman belajar.
Lebih lanjut Hilgard dalam Sanjaya (2008) mengungkapkan bahwa "Learning is the process by which an activity originates or changed through training procedures (wether in the laboratory or in the natural environment)..." yang artinya belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan (baik latihan di dalam laboratorium maupun di dalam lingkungan alamiah).
Oleh Dimyati dan Mudjiono (2010:9-17) mengemukakan pandangan beberapa ahli tentang belajar, yaitu:
  1. Belajar menurut pandangan Skinner
  2. Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka resposnya menjadi lebih baik baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun.
  3. Belajar menurut Gagne
  4. Menurut Gagne, belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai.
  5. Belajar menurut pandangan Piaget
  6. Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.
  7. Belajar menurut Rogers
  8. Rogers berpendapat bahwa praktik pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktik tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku atau pengetahuan seseorang sebagai hasil pengalamannya melalui interaksi dengan lingkungannya.

b. Prinsip-prinsip Belajar
Beberapa ahli mengemukakan beberapa pendapat tentang prinsip-prinsip yang mana satu dengan yang lain memiliki persamaan dan perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat digunakan sebagai dasar dalam upaya peningkatan pembelajaran. Oleh Dimyati dan Mudjiono (2010:42-49), mengemukakan beberapa prinsip dalam belajar yaitu:
  1. Perhatian dan motivasi
  2. Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Perhatian terhadap belajar akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.
    Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Dan sebagai alat, motivasi merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan.
  3. Keaktifan
  4. Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menunjukkan keaktifannya. Keatifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik dapat berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.
  5. Keterlibatan langsung/berpengalaman
  6. Keterlibatan siswa dalam belajar jangan diartikan sebagai keterlibatan fisik semata. Namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
  7. Pengulangan
  8. Oleh teori Psikologi Daya, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamati, menanggapi, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan terus berkembang.
  9. Tantangan
  10. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasihambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru.
  11. Balikan dan penguatan
  12. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil yang baik akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif dan penguatan negative dapat memperkuat belajar.
  13. Perbedaan individual
  14. Perbedaan individual berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu pelu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran.
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ektern. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ektern adalah faktor yang ada diluar diri individu.
Slameto (2010:54-59) menjelaskan beberapa faktor-faktor intern yang dapat mempengaruhi belajar yaitu:
  1. Faktor jasmaniah
    • Faktor kesehatan, sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya bebas dari penyakit.
    • Cacat tubuh, merupakan sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan.
  2. Faktor psikologis
    • Inteligensi, merupakan kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan diri kedalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
    • Perhatian,merupakan keaktifan jiwa yang dipertinggi dan jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu objek.
    • Minat, merupakan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenal beberapa kegiatan.
    • Bakat, merupakan kemauan untuk belajar yang akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata.
    • Motif, merupakan daya pengerak atau pendorong untuk melakukan sesuatu.
    • Kematangan, merupakan suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.
    • Memberi response atau reaksi.
  3. Faktor kelelahan
    • Kelemahan jasmani, terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan tumbuh kecenderungan untuk membaringkan tubuh.
    • Kelelahan rohani, terlihat dangan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.
Lebih lanjut Slameto (2010:60-71) menjelaskan beberapa faktor-faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar yaitu:
  1. Faktor Keluarga
    • Cara orang tua mendidik, hal ini besar pengaruhnya terhadap belajar anak karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama.
    • Relasi antara anggota keluarga, merupakan relasi orang tua dengan anaknya, anak dengan saudaranya ataupun dengan anggota keluarga yang lain.
    • Suasana rumah, merupakan situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi dalam keluarga dimana anak tersebut berada dan belajar.
    • Keadaan ekonomi keluarga, hal ini berhubungan dengan kebutuhan pokok anak, misalanya makanan, pakaian, perlindungan kesehatan dan juga fasilitas belajar.
    • Pengertian orang tua, hal ini berhubungan dengan dorongan dan kasih sayang orang tua terhadap anaknya.
    • Latar belakang kebudayaan, merupakan kebiasaan-kebiasaan yang ditanamkan agar mendorong semangat anak untuk belajar.
  2. Faktor Sekolah
  3. Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.
  4. Faktor Masyarakat
  5. Faktor masyarakat yang mempengaruhi belajar mencakup kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
Berdasarkan uraian pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar cukup luas dan kompleks. Hal ini beranjak dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Selain dari beberapa faktor-faktor diatas, salah satu hal penting yang perlu diketahui adalah tentang bagaimana minat belajar siswa. Berikut adalah pengertian minat:
  1. Minat menurut kamus besar bahasa indonesia adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap suatu gairah keinginan.
  2. Minat menurut Mahfudz Shalahuddin adalah perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan.
  3. Minat menurut Crow adalah berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda dan kegiatan.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa, minat adalah kecenderungan jiwa yang relatif menetap kepada diri seseorang dan biasanya disertai dengan perasaan senang untuk melakukan proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari pengetahuan dan pengalaman.
Ada beberapa indikator minat yaitu:
  1. Pengalaman belajar, pengalaman yang dimiliki oleh siswa dalam mata pelajaran tersebut seperti prestasi belajar.
  2. Mempunyai sikap emosional yang tinggi, sikap emosional yang tinggi misalnya siswa tersebut aktif mengikuti pelajaran, selalu mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik, dll.
  3. Pokok pembicaraan, yaitu apa yang dibicarakan atau didiskusikan.
  4. Buku bacaan (buku yang dibaca), biasannya siswa atau anak jika diberi kebebasan untuk memilih buku bacaan tertentu siswa itu akan memilih buku bacaan yang menarik dan sesuai dengan bakat dan minatnya.
  5. Pertanyaan, bila pada saat proses belajar-mengajar berlangsung siswa selalu aktif dalam bertanya dan pertanyaan tersebut sesuai dengan materi yang diajarkan itu bertanda bahwa siswa tersebut memiliki minat belajar yang besar.
  6. Adanya konsentrasi siswa terhadap materi yang disajikan.
Perhatian siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung sangat perlu diketahui. perhatian, merupakan keaktifan jiwa yang dipertinggi dan jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu objek.
Ada beberapa indikator perhatian yaitu:
  1. Memiliki daya tarik.
  2. Adanya konsentrasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.
  3. Adanya rasa ingin tahu siswa tentang materi yang disampaikan.
Selain dari minat dan perhatian perlu juga diketahui bagaimana partisipasi siswa dalam pembelajaran. Adapun konsep partisipasi menurut Ensiklopedi pendidikan bahwa, sebenarnya partisipasi adalah suatu gejala demokrasi dimana orang diikutsertakan dalam perencanaan serta pelaksanaan dan juga ikut memikul tanggung jawab sesuai dengan tingkat kematangan dan tingkat kewajibannya. Partisipasi itu menjadi baik dalam bidang-bidang fisik maupun bidang mental serta penentuan kebijaksanaan.
Dalam hal ini partisipasi yang dimaksud adalah partisipasi siswa yaitu keikutsertaan atau keterlibatan dalam kegiatan yang dilaksanakan dalam pembelajaran.
Jadi dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi serta fisik peserta didik dalam memberikan respon terhadap kegiatan yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar serta mendukung pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keterlibatannya.
Berdasarkan pengertian di atas dapat diketahui bahwa dalam partisipasi terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
  1. Keterlibatan peserta didik dalam segala kegiatan yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar.
  2. Kemauan peserta didik untuk merespon dan berkreasi dalam kegiatan yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar.
Partisipasi siswa dalam pembelajaran sangat penting untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang sudah direncakan bisa dicapai semaksimal mungkin.
Tidak ada proses belajar tanpa partisipasi dan keaktifan anak didik yang belajar. Setiap anak didik pasti aktif dalam belajar, hanya yang membedakannya adalah kadar/bobot keaktifan anak didik dalam belajar. Ada keaktifan itu dengan kategori rendah, sedang dan tinggi. Disini perlu kreatifitas guru dalam mengajar agar siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
Penggunaan strategi dan metode yang tepat akan menentukan keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Metode belajar mengajar yang bersifat partisipatoris yang dilakukan guru akan mampu membawa siswa dalam situasi yang lebih kondusif karena siswa lebih berperan serta, lebih terbuka dan sensitif dalam kegiatan belajar mengajar.

d. Belajar Matematika
Matematika adalah ilmu yang berkaitan dengan ide-ide abstrak dan disajikan dalam bentuk simbol-simbol serta disusun secara hierarkis. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Dimyati dalam Uno (2010:126) bahwa: matematika merupakan "ide abstrak" memiliki pijakan untuk mempelajarinya.
Belajar matematika pada dasarnya merupakan proses yang diarahkan pada satu tujuan. Tujuan belajar matematika ditinjau dari segi kognitif adalah terjadinya transfer belajar yang dapat terlihat dari kemampuan siswa mengfungsionalkan materi matematika baik secara konseptual maupun secara praktis. Secara konseptual dimaksudkan untuk dapat memperlajari matematika lebih lanjut, sedangkan secara praktis dimaksudkan menetapkan materi matematika dalam memecahkan masalah matematika dan dalam bidang lain.
Meskipun pelajaran matematika itu dirasakan siswa sebagai pelajaran yang sulit dipelajari, namun merupakan suatu ilmu pengetahuan yang penting untuk dipelajari. Matematika merupakan suatu ilmu pasti yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara kritis, sistematis, logis, kreatif, dan kemampuan belajar yang efektif. Uno (2009:129) mengemukakan bahwa: Matematika merupakan suatu bidang ilmu yang merupakan alat pikir, komunikasi, alat untuk memecahkan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsur logika dan intuisi, analisis dan konstruksi, generalitas dan individualitas serta mempunyai cabang-cabang antara lain aritmetika, aljabar, geometri dan analisis.
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar matematika itu selalu berhubungan dengan aktivitas manusia. Mempelajari matematika tidak dapat dilakukan secara acak, harus dimulai dari dasar, tahap demi tahap. Dalam belajar matematika diperlukan daya nalar yang baik serta keseriusan untuk mempelajarinya. Selain itu, siswa juga dituntut untuk terlebih dahulu menguasai materi dasar (pendukung) sebelum beranjak pada materi pelajaran yang merupakan lanjutan dari materi pelajaran sebelumnya.


Posted on Minggu, November 23, 2014 by Eman Mendrofa

No comments

22 November 2014


a. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran artinya pola pembelajaran yang sudah didesain sedemikian hingga untuk mencapai tujuan pengajaran. Menurut Suprijono (2009:46) mengemukakan bahwa : "model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial". Menurut Joyce dan Weil dalam Rusman berpendapat bahwa:
Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.

Menurut Lufri mengatakan bahwa:
Model pembelajaran adalah pola atau contoh pembelajaran yang sudah didesain dengan menggunakan pendekatan atau metode atau strategi pembelajaran yang lain, serta dilengkapi dengan langkah-langkah (sintaks) dan perangkat pembelajaran.

Lebih lanjut Joyce dalam Trianto (2010:22) mengatakan bahwa:
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum.

Dari beberapa pengertian model pembelajaran di atas, maka disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola pembelajaran terencana yang menjadi pedoman bagi perancang dalam proses kegiatan pembelajaran. Melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, cara berpikir, keterampilan dan mengekspresikan diri.


b. Model Pembelajaran Kooperatif
  1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
  2. Menurut Hamdani (2011:30) bahwa : "model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan". Menurut Isjoni (2009:23) bahwa:
    Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada siswa (student oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa, yang tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain

    Sementara itu menurut Suprijono (2009:54) bahwa : "pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru".

    Menurut Rusman (2010:202) bahwa:
    Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

    Selanjutnya Nurulhayati dalam Rusman (2010:203) mengatakan bahwa : "pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi". Menurut Artzt dan Newman dalam Trianto (2010:56) mengatakan bahwa: "dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama

    Dari beberapa pengertian model pembelajaran kooperatif di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang lebih menggairahkan siswa dalam belajar, bekerjasama dan saling membantu dalam sebuah kelompok kecil sehingga tercapai proses dan hasil belajar yang produktif.

    Tujuan yang ingin dicapai dalam belajar kooperatif ini adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Karena siswa bekerja dalam satu team, maka dengan sendirinya dapat memperbaiki hubungan diantara para siswa dari berbagai latar belakang, etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan-keterampilan proses kelompok dan pemecahan masalah.

  3. Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif
  4. Menurut Hamdani (2011:31) ada beberapa ciri pembelajaran kooperatif yaitu:
    • Setiap anggota memiliki peran
    • Terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa
    • Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas cara belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya
    • Guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok
    • Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan

    Menurut Arends dalam Trianto (2010:65-66) menyatakan bahwa pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
    • Siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar
    • Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah
    • Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang beragam
    • Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu

    Menurut Rusman (2010:207) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
    • Pembelajaran secara team
    • Didasarkan pada manajemen kooperatif
    • Kemauan untuk bekerjasama
    • Keterampilan bekerjasama

    Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif bercirikan dengan adanya:
    1. Struktur tugas: mengacu kepada cara pembelajaran diorganisasikan dari jenis kegiatan yang dilakukan siswa di dalam kelas
    2. Struktur tujuan: merupakan kadar saling ketergantungan pada saat siswa mengerjakan tugas. Ada tiga macam struktur tujuan
      • Individualistik adalah jika pencapaian tujuan itu tidak memerlukan interaksi dengan siswa lain
      • Kompetitif adalah jika siswa hanya dapat mencapai suatu tujuan jika siswa lain tidak dapat mencapai tujuan tersebut
      • Kooperatif adalah jika siswa dapat mencapai tujuan hanya jika bekerjasama dengan siswa lain
    3. Struktur penghargaan (reward): merupakan penghargaan yang diperoleh siswa atas prestasinya. Struktur penghargaan ini bervariasi tergantung jenis kegiatan yang dilakukan. Ada penghargaan individualistik, penghargaan kompetitif dan penghargaan kooperatif.
    Roger dan David Johnson dalam Suprijono (2009:58) mengatakan bahwa: "tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif".
    Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Lima unsur itu menurut Roger dan David Johnson dalam Suprijono (2009:58) adalah sebagai berikut:
    • Positive interdependence (saling ketergantungan positif)
    • Personal responsibility interaction (tanggung jawab perseorangan)
    • Face to face promotive interaction (Interaksi promotif)
    • Interpersonal skill (komunikasi antar anggota)
    • Group processing (pemrosesan kelompok)

    Selain lima unsur penting yang terdapat dalam model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran ini juga mengandung prinsip-prinsip yang membedakan dengan model pembelajaran lainnya. Menurut Slavin dalam Trianto (2010:61-62) konsep utama dari belajar kooperatif adalah sebagai berikut:
    1. Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan
    2. Tanggungjawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok. Tanggungjawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan memastikan semua anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan yang lain.
    3. Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri.
    Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah:
    1. Adanya kerjasama antaranggota kelompok
    2. Setiap anggota kelompok mempunyai tanggungjawab
    3. Anggota kelompok mempunyai rasa saling ketergantungan
    4. Setiap kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda
    5. Adanya penghargaan kepada kelompok
  5. Keunggulan Dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif
  6. Model pembelajaran kooperatif mempunyai keunggulan dan kelemahan. Sanjaya (2010:249-251) menguraikan keunggulan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
    1. Keunggulan model pembelajaran kooperatif
      1. Melalui model pembelajaran kooperatif siswa tidak terlalu bergantung pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain
      2. Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide orang lain
      3. Model pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan
      4. Model pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggungjawab dalam belajar
      5. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waktu, dan sikap positif terhadap sekolah
      6. Melalui model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya
      7. Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil)
      8. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan ransangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang
    2. Kelemahan model pembelajaran kooperatif
      1. Untuk memahami dan mengerti filosofis model pembelajaran kooperatif memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat cooperative learning. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, contohnya, mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengganggu iklim kerja sama dalam kelompok
      2. Ciri utama dari model pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa peer teaching yang efektif, maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa
      3. Penilaian yang diberikan dalam model pembelajaran kooperatif didasarkan pada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi setiap individu siswa
      4. Keberhasilan model pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang. Dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-sekali penerapan strategi ini
      5. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Oleh karena itu idealnya melalui model pembelajaran kooperatif selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal itu dalam model pembelajaran kooperatif memang bukan pekerjaan yang mudah
  7. Peranan Guru Dalam Model Pembelajaran Kooperatif
  8. Dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif dibutuhkan kemauan dan kemampuan serta kreativitas guru dalam mengelola lingkungan kelas. Sehingga dengan menggunakan model ini guru bukannya bertambah pasif, tapi harus menjadi lebih aktif terutama saat menyusun rencana pembelajaran secara matang, pengaturan kelas saat pelaksanaan, dan membuat tugas untuk dikerjakan siswa bersama dengan kelompoknya.
    Dalam model pembelajaran kooperatif, guru harus menciptakan kelas sebagai laboratorium demokrasi, supaya peserta didik terlatih dan terbiasa berbeda pendapat. Kebiasaan ini penting dikondisikan sejak di bangku sekolah, agar peserta didik terbiasa berbeda pendapat, jujur, sportif dalam mengakui kekurangannya sendiri dan siap menerima pendapat orang lain yang lebih baik serta mampu mencari pemecahan masalah.
    Menurut Isjoni (2009:92-94) peran guru dalam pelaksanaan kooperatif learning adalah sebagai berikut:
    1. Sebagai Fasilitator
    2. Sebagai fasilitator seorang guru harus memiliki sikap-sikap sebagai berikut: (1) Mampu menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan, (2) Membantu dan mendorong siswa untuk mengungkapkan dan menjelaskan keinginan dan pembicaraannya baik secara individual maupun kelompok, (3) Membantu kegiatan-kegiatan dan menyediakan sumber atau peralatan serta membantu kelancaran belajar mereka, (4) Membina siswa agar setiap orang merupakan sumber yang bermanfaat bagi yang lainnya, (5) Menjelaskan tujuan kegiatan pada kelompok dan mengatur penyebaran dalam bertukar pendapat.
    3. Sebagai Mediator
    4. Sebagai mediator, guru berperan sebagai penghubung dalam menjembatani mengaitkan materi pembelajaran yang sedang dibahas melalui pembelajaran kooperatif dengan permasalahan yang nyata ditemukan di lapangan. Disamping itu, guru juga berperan dalam menyediakan sarana pembelajaran, agar suasana belajar tidak monoton dan membosankan.
    5. Sebagai Director-motivator
    6. Sebagai director-motivator, guru berperan dalam membimbing, serta mengarahkan jalannya diskusi, membantu kelancaran diskusi tapi tidak memberikan jawaban. Disamping itu, sebagai motivator guru berperan sebagai pemberi semangat pada siswa untuk aktif berpartisipasi.
    7. Sebagai Evaluator
    8. Sebagai evaluator, guru berperan dalam menilai kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung. Penilaian ini tidak hanya pada hasil, lebih ditekankan pada proses pembelajaran. Penilaian dilakukan baik secara perorangan maupun secara kelompok.
  9. Peranan Guru Dalam Model Pembelajaran Kooperatif
  10. Dalam Hamdani (2011:34-35) ada enam langkah utama atau tahapan di dalam pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif yang terangkum pada tabel di bawah ini:

    TAHAP-TAHAP MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
    FASE-FASE PERILAKU GURU
    Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyampaikan semua tujuan yang ingin dicapai selama pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar
    Fase 2 : Menyajikan informasi Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau melalui bahan bacaan
    Fase 3 : Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar Menjelaskan kepada siswa cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
    Fase 4 : Membimbing kelompok bekerja dan belajar Membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
    Fase 5 : Evaluasi Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari/meminta presentasi hasil kerja kepada kelompok
    Fase 6 : Memberikan penghargaan Menghargai upaya dan hasil belajar individu dan kelompok

Posted on Sabtu, November 22, 2014 by Eman Mendrofa

No comments

15 November 2014

Program determinan perkalian dan penjumlahan matriks (ordo 2 x 2) pada visual basic dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut:
  1. Buat Project baru menggunakan Standard EXE.
  2. Tambahkan komponen-komponen: 5 label, 13 textbox, 3 commandbutton, dan 3 optionbutton.
  3. Aturlah letak dan posisi komponen-komponen tersebut seperti gambar berikut:
  4. Sekarang kita mengatur properti dari masing-masing komponen. Pertama kita mengatur properti dari label. Klik Label1, isi properti [Caption] dengan PROGRAM DETERMINAN PERKALIAN DAN PENJUMLAHAN MATRIKS. Klik Label2, isi properti [Caption] dengan Masukkan Nilai Matriks A, klik Label3, isi properti [Caption] dengan Masukkan Nilai Matriks B, klik Label4, isi properti [Caption] dengan Hasil Matriks, seterusnya klik Label5, isi properti Caption dengan Determinan Hasil Matriks.
  5. Properti komponen yang kita atur seterusnya adalah textbox. Klik Text1 kemudian kosongkan properti [Text]. Lakukan langkah ini hingga Text13.
  6. Selanjutnya properti commandbutton. Klik Command1, isi properti [Caption] dengan Proses, klik Command2, isi properti [Caption] dengan Bersihkan, kemudian klik Command3, isi properti [Caption] dengan Keluar.
  7. Properti terakhir yang kita atur adalah properti optionbutton. Klik Option1, isi properti [Caption] dengan Perkalian, klik Option2, isi properti [Caption] dengan Penjumlahan, klik Option3, isi properti [Caption] dengan Determinan.
  8. Setelah semua properti dari masing-masing komponen kita atur maka tampilannya seperti gambar berikut:
  9. Selanjutnya ketiklah kode program berikut:
  10. Private Sub Command1_Click()
    a11 = Val(Text1.Text)
    a12 = Val(Text2.Text)
    a21 = Val(Text3.Text)
    a22 = Val(Text4.Text)
    b11 = Val(Text5.Text)
    b12 = Val(Text6.Text)
    b21 = Val(Text7.Text)
    b22 = Val(Text8.Text)
    If Option1.Value = True Then
    Text9.Text = (a11 * b11) + (a12 * b21)
    Text10.Text = (a11 * b12) + (a12 * b22)
    Text11.Text = (a21 * b11) + (a22 * b21)
    Text12.Text = (a21 * b12) + (a22 * b22)
    ElseIf Option2.Value = True Then
    Text9.Text = a11 + b11
    Text10.Text = a12 + b12
    Text11.Text = a21 + b21
    Text12.Text = a22 + b22
    Else
    Text13.Text = (Text9.Text * Text12.Text)-(Text10.Text * Text11.Text)
    End If
    End Sub

    Private Sub Command2_Click()
    Text1.Text = ""
    Text2.Text = ""
    Text3.Text = ""
    Text4.Text = ""
    Text5.Text = ""
    Text6.Text = ""
    Text7.Text = ""
    Text8.Text = ""
    Text9.Text = ""
    Text10.Text = ""
    Text11.Text = ""
    Text12.Text = ""
    Text13.Text = ""
    Text1.SetFocus
    End Sub

    Private Sub Command3_Click()
    End
    End Sub

  11. Setelah kode programnya selesai diketik, sekarang simpan kemudian jalankan dan masukkan nilai matriks A dan B. Berikut Sreenshootnya:

Posted on Sabtu, November 15, 2014 by Eman Mendrofa

No comments


a. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Dari makna ini jelas terlihat bahwa pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, dimana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Isjoni (2009:14) mengatakan bahwa : "pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat untuk siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar". Tujuan pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan efektifitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. Sudjana (2010:5) mengatakan bahwa: Pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Berhasil tidak berhasilnya peserta didik tergantung dari upaya seorang pendidik untuk membelajarkan peserta didiknya.
Lebih lanjut Dimyati dan Mudjiono (2006:297) mengemukakan bahwa: "pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar lebih aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar".
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha dari seorang guru untuk membantu peserta didik dalam belajar sehingga siswa lebih aktif dalam belajar.

b. Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran
Peran guru dalam proses pembelajaran sangat penting. Menurut Sanjaya (2008:21-32) mengemukakan beberapa peran guru dalam proses pembelajaran, yakni:
  1. Guru sebagai sumber belajar
  2. Peran guru sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran
  3. Guru sebagai fasilitator
  4. Sebagai fasilitator, guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran
  5. Guru sebagai pengelola
  6. Sebagai pengelola pembelajaran (learning manajer), guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman
  7. Guru sebagai demonstrator
  8. Peran guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan
  9. Guru sebagai pembimbing
  10. Peran guru sebagai pembimbing adalah menjaga, mengarahkan, dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya
  11. Guru sebagai motivator
  12. Guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, yaitu:
    1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai
    2. Membangkitkan minat siswa
    3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
    4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan belajar siswa
    5. Berikan penilaian
    6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa
    7. Ciptakan persaingan dan kerja sama
  13. Guru sebagai evaluator
  14. Sebagai evaluator, guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan
c. Komponen-komponen Pembelajaran
Sebagai suatu sistem, pembelajaran dalam prosesnya akan melibatkan berbagai komponen. Menurut Hamdani (2011:48) menguraikan 6 komponen pembelajaran sebagai berikut:
  1. Tujuan, secara eksplisit, diupayakan melalui kegiatan pembelajaran instructional effect, biasanya berupa pengetahuan dan keterampilan atau sikap yang dirumuskan secara eksplisit dalam tujuan pembelajaran
  2. Subjek belajar, dalam sistem pembelajaran merupakan komponen utama karena berperan sebagai subjek sekaligus objek
  3. Materi pelajaran, merupakan komponen utama dalam proses pembelajaran karena meteri pelajaran akan memberi warna dan bentuk kegiatan pembelajaran
  4. Strategi pembelajaran, merupakan pola umum mewujudkan proses pembelajaran yang diyakini efektifitasnya untuk mencapai tujuan pembelajaran
  5. Media pembelajaran adalah alat atau wahana yang digunakan guru dalam proses pembelajaran untuk membantu penyampaian pesan pembelajaran. Media pembelajaran berfungsi meningkatkan peranan strategi pembelajaran
  6. Penunjang, dalam sistem pembelajaran adalah fasilitas belajar, sumber belajar, alat pelajaran, bahan pelajaran, dan semacamnya. Penunjang berfungsi memperlancar dan mempermudah terjadinya proses pembelajaran
d. Hakikat Kualitas Proses Pembelajaran
Seorang guru yang profesional pada dasarnya harus dapat mengetahui bagaimana kualitas pembelajaran yang dilaksanakannya. Menurut Glaser dalam Uno (2009:153) menyatakan bahwa, "kualitas lebih mengarah kepada sesuatu yang baik sedangkan pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa". Jadi, dapat disimpulkan bahwa kualitas pembelajaran artinya mempersoalkan bagaimana kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan output yang baik pula.
Untuk menghasilkan output yang bermutu maka perbaikan pengajaran diarahkan pada pengelolaan proses pembelajaran. Dalam hal ini, peran model pembelajaran yang sangat penting dalam menghasilkan output pendidikan yang sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam rangka mewujudkan proses pembelajaran yang berkualitas, Pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagai penjabaran lebih lanjut dari Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, yang di dalamnya memuat tentang standar proses.
Berkaitan dengan pembelajaran yang bermutu, Muljono dalam Daeli (2010:30) menyatakan bahwa: "konsep mutu pembelajaran mengandung lima rujukan, yaitu (1) kesesuaian, (2) daya tarik, (3) efektivitas, (4) efesiensi, (5) produktivitas pembelajaran". Lebih lanjut Mulyasa (2006:28-29) menguraikan secara garis besar standar proses pembelajaran sebagai berikut:
  1. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipatif aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik
  2. Dalam proses pembelajaran, pendidik memberikan keteladanan
  3. Setiap tahun pendidik melakukan perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan pembelajaran, untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien
  4. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar
  5. Pelaksanaan proses pembelajaran harus memperhatikan jumlah maksimal peserta didik per kelas dan beban mengajar maksimal per pendidik, rasio maksimal buku teks pembelajaran setiap peserta didik dan rasio maksimal jumlah peserta didik per pendidik
  6. Pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan dengan mengembangkan budaya membaca dan menulis
  7. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan berbagai teknik penilaian, dapat berupa tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perorangan atau kelompok, sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai
  8. Untuk mata pelajaran selain kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, teknik penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester
  9. Pengawasan proses pembelajaran meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan pengambilan langkah tindak lanjut yang diperlukan
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas proses pembelajaran merupakan gambaran baik buruknya hasil yang dicapai oleh peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan.
Untuk mengetahui kualitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan maka dilakukan evaluasi proses pembelajaran dengan menggunakan beberapa instrumen. Uno (2009:159) menjelaskan bahwa: Instrumen kualitas pembelajaran disusun dalam bentuk kuesioner objektif, dimana kepada responden akan diberikan beberapa butir soal dengan lima alternatif jawaban. Selanjutnya responden diminta untuk memilih satu jawaban yang paling sesuai dengan apa yang mereka rasakan
Selain itu, instrumen untuk mengukur kualitas pembelajaran dapat dilakukan melalui wawancara kepada responden dan rekaman video. Hopkins dalam Wiriaatmadja (2009:117) menjelaskan bahwa: wawancara adalah suatu cara untuk mengetahui situasi tertentu di dalam kelas dilihat dari sudut pandang yang lain. Orang-orang yang diwawancarai dapat termasuk beberapa orang siswa, kepala sekolah, beberapa orang teman sejawat, pegawai tata usaha sekolah, orang tua siswa.
Lebih lanjut Wiriaatmadja (2009:118) menguraikan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar wawancara berlangsung efektif, yaitu:
  1. Bersikaplah sebagai pewawancara yang simpatik, yang berperhatian dan pendengar yang baik, tidak berperan terlalu aktif untuk menunjukkan bahwa anda menghargai pendapat anak
  2. Bersikaplah netral dalam relevansinya dengan pelajaran. Janganlah anda menyatakan pendapat anda sendiri tentang hal itu atau mengomentari pendapat anak
  3. Bersikaplah tenang, tidak terburu-buru atau ragu-ragu dan anak akan menunjukkan sikap yang sama
  4. Mungkin anak yang diwawancarai merasa takut kalau mereka menunjukkan sikap atau gagasan yang salah menurut anda. Yakinkanlah anak, bahwa pendapatnya penting bagi anda
  5. Secara khusus perhatikan bahasa yang anda gunakan untuk wawancara...; selalu ingat akan garis besar tujuan wawancara; ulangi pertanyaan anak apabila anak menjawab terlalu umum/kabur sifatnya
e. Kriteria Keberhasilan Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri siswa seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%). Mulyasa (2006:210-211) menguraikan kriteria atau indikator-indikator keberhasilan proses pembelajaran sebagai berikut:
  1. Kriteria jangka pendek
    1. Sekurang-kurangnya 75% isi dan prinsip-prinsip pembelajaran dapat dipahami, diterima dan diterapkan oleh para peserta didik di kelas
    2. Sekurang-kurangnya 75% peserta didik merasa mendapat kemudahan, senang dan memiliki kemauan belajar yang tinggi
    3. Para peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran
    4. Materi yang dikomunikasikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan mereka memandang bahwa hal tersebut akan sangat berguna bagi kehidupannya kelak
    5. Pembelajaran yang dikembangkan dapat menumbuhkan minat belajar para peserta didik untuk belajar lebih lanjut (continuing)
  2. Kriteria jangka menengah
    1. Adanya umpan balik terhadap para guru tentang pembelajaran yang dilakukannya bersama peserta didik
    2. Para peserta didik menjadi insan yang kreatif dan mampu menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapinya
    3. Para peserta didik tidak memberikan pengaruh negatif terhadap masyarakat, lingkungannya dengan cara apapun
  3. Kriteria jangka panjang
    1. Adanya peningkatan mutu pendidikan, yang dapat dicapai oleh sekolah melalui kemandirian dan inisiatif kepala sekolah, guru dalam mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber yang tersedia
    2. Adanya peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan dan penggunaan sumber-sumber pendidikan, melalui pembagian tanggung jawab yang jelas, transparan dan demokratis
    3. Adanya peningkatan tanggungjawab sekolah kepada pemerintah, orangtua peserta didik dan masyarakat pada umumnya berkaitan dengan mutu sekolah, baik dalam intra maupun ekstrakurikuler
    4. Adanya kompetisi yang sehat antar sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orangtua, peserta didik, masyarakat dan pemerintah daerah setempat
    5. Tumbuhnya kemandirian dan berkurangnya ketergantungan dikalangan warga sekolah, bersifat adiktif dan produktif, serta memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi ulet, inovatif dan berani mengambil resiko)
    6. Terwujudnya proses pembelajaran yang efektif, yang lebih menekankan pada belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup bersama (learning to live together)
    7. Terwujudnya iklim sekolah yang aman, nyaman dan tertib, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung
    8. Adanya proses evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Evaluasi secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik, tetapi untuk memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut bagi perbaikan dan penyempurnaan proses pembelajaran di sekolah
Djamarah (2002:120) mengemukakan bahwa yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses pembelajaran berhasil adalah hal-hal berikut:
  1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok
  2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/instruksional khusus (TIK) yang telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok
Lebih lanjut Djamarah (2002:121-122) mengemukakan, keberhasilan proses belajar itu dibagi atas beberapa taraf atau tingkatan. Tingkat keberhasilan tersebut adalah:
  1. Istimewa/maksimal: apabila keseluruhan bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa.
  2. Baik sekali/optimal: apabila sebagian besar (76% s.d 99%) bahan pelajaran yang disampaikan dapat dikuasai oleh siswa.
  3. Baik/minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60% s.d 75% saja dikuasai oleh siswa.
  4. Kurang: apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dikuasai oleh siswa.
f. Ciri-ciri Pembelajaran
Darsono dalam Hamdani (2011:47) berpendapat bahwa ciri-ciri pembelajaran sebagai berikut:
  1. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis
  2. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar
  3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik perhatian dan menantang siswa
  4. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik
  5. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa
  6. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun psikologi
  7. Pembelajaran menekankan keaktifan siswa
  8. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan sengaja
Sementara itu beberapa ciri pembelajaran matematika secara konstruktivis seperti yang diungkapkan Suhito dalam Widarti (2007:16) adalah sebagai berikut:
  1. Siswa terlibat secara aktif dalam belajarnya
  2. Siswa belajar materi matematika secara bermakna
  3. Siswa belajar bagaimana belajar itu
  4. Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi sebelumnya sehingga menyatu dengan skemata yang telah dimiliki siswa
  5. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan
  6. Berorientasi pada pemecahan masalah

Posted on Sabtu, November 15, 2014 by Eman Mendrofa

No comments

03 November 2014

Pada postingan sebelumnya saya telah menulis tutorial Cara Membuat Nomor Halaman Yang Berbeda Pada Microsoft Word. Kali ini saya akan menuliskan tutorial cara membuat letak atau posisi nomor halaman yang berbeda akan tetapi sistem penomorannya sama pada Microsoft Word. Penomoran seperti ini biasanya kita temui ketika kita ingin menuliskan nomor halaman pada awal BAB Skripsi yang letaknya pada bagian bawah halaman sementara halaman selanjutnya terletak pada bagian sudut kanan atas halaman. Untuk membuat penomoran yang dimaksud silahkan ikuti langkah-langkah berikut:

1. Ketiklah sebuah naskah atau tulisan sesuka Anda. Pada tutorial kali ini kita cukup menggunakan 2 halaman saja, dengan ketentuan nomor halaman pada halaman pertama diletakkan di bagian bawah halaman dan halaman kedua terletak di bagian sudut kanan atas halaman.

2. Letakkan kursor pada halaman pertama, klik Tab Insert kemudian Page Number selanjutnya pilih Bottom of Page, kemudian klik Plain Number 2 (Nomor halaman terletak di tengah-tengah dan bagian bawah halaman).

3. Sesuaikan format nomor halaman, melalui tab Design dengan memilih Page Number dan Format Page Numbers.

4. Jika format nomor halaman telah sesuai, abaikan langkah nomor 3. Selanjutnya klik Close Header and Footer pada tab Design.

5. Sekarang letakkan kursor pada awal halaman kedua, selanjutnya klik Tab Page Layout kemudian Breaks, selanjutnya klik Next Page.

6. Klik dua kali pada nomor halaman di halaman kedua.

7. Nonaktifkan Link to Previous.

8. Hapus nomor halaman pada halaman ke dua.

9. Sekarang kita akan mengatur letak nomor halaman pada halaman kedua. Pada Tab Design pilih Page Number selanjutnya pilih Top of Page, kemudian klik Plain Number 3 (Nomor halaman terletak di sudut kanan atas halaman).

10. Pada halaman kedua, nonaktifkan Link to Previous.

11. Atur pengaturan nomor halaman di tab Design kemudian Page Number, lalu klik Format Page Numbers.

12. Pada kotak Page Number Format centang Start at kemudian ketik angka 2, karena halaman 2 kita mulai dengan nomor 2. Selanjutnya klik OK.

13. Sekarang blok nomor halaman yang terletak di sudut kanan atas pada halaman pertama kemudian hapus nomor halaman tersebut.
14. Terakhir klik Close Header and Footer dan lihatlah hasilnya.

Sekarang nomor halaman pada halaman pertama terletak di bagian bawah halaman dan pada halaman kedua terletak pada sudut kanan atas halaman. Sekian tutorialnya dan semoga bermanfaat.

Posted on Senin, November 03, 2014 by Eman Mendrofa

132 comments